Barang Seken

Setidaknya lima kali penulis membeli barang seken bernama handphone. Tetapi ternyata barang seken yang didapatkan penulis banyak sekali dan nyaris tidak disadari.

Untuk mengatasi masalah hidup sehari-hari (di rumah, di kantor dan di manapun) penulis mendapatkan barang seken dari pendapat-pendapat orang lain yang belum tentu mereka alami sendiri, karena mereka juga kulakan dari pendapat dan buku-buku, artikel, apapun namanya itu. Anehnya barang seken tadi diberi sebutan mentereng bernama ‘knowledge’.

Lalu penulis menyadari saat berelasi dengan sesama, dengan alam dan dirinya sendiri ternyata bukan dia sesungguhnya yang berelasi. Tetapi olahan barang seken usang bernama ‘knowledge’ yang menumpuk sebagai memori. Memori itu sungguh mengendalikan penulis dalam bertindak.

Penulis tidak tahu bagaimana menghentikan tumpukan itu yang kian hari kian terjejal sehingga mengaburkan pandangan dan menumpulkan batin.

Posted in Saya Lihat-Dengar-Rasakan | Tinggalkan komentar

Sebutan

Entah sejak kapan ada sebutan untuk sesuatu.
Kata-kata telah mereduksi realitas.
Realitas menjauh dan hanya diwakili huruf-huruf.

Dengan menyebut sesuatu saya terpisah dengan ‘sesuatu’ itu.

Maka

Penulis tidak (lagi) menyebut.

Untuk apa yang dilihat
Untuk apa yang didengar
Untuk apa yang dirasakan
Untuk semua aksi
Untuk semua reaksi
Untuk semua gerakan batin
Untuk …..

Bisakah ?

Posted in Saya Lihat-Dengar-Rasakan | Tinggalkan komentar

Orang Lain

Semalam rekan penulis bercerita berapi-api, penuh semangat. Setelah beropini tentang kebobrokan mantan pejabat negeri ini dan kemungkinan-kemungkinan kebobrokan lainnya, ia berseloroh.

“Orang terkaya di desa ini saya kenal. Uangnya 30 M. Sekian ratus juta sudah disiapkan untuk istrinya. Sekian ratus juta untuk anak-anaknya. Tapi dia tidak puas juga. Masih beli kapal tanker. Kok tidak pernah puas…”

“Mengapa Bapak tertarik mengomentari si orang kaya di desa kita. Bukankah lebih baik bertanya kepada diri sendiri : Kalau saya sedang serakah, ingin lebih, apakah saya menyadarinya detik itu dan atas kesadaran itu tidak ada lagi keinginan serakah sekaligus keserakahan itu berhenti ?”, kata penulis.

“Teman saya yang lain uangnya saya duga sudah T (trilyunan), karena baru bangun tidur lagi kucek-kucek mata sudah ada tumpukan bon di kamar tidurnya.”, katanya lagi.

Penulis menyela dengan ungkapan yang sama. Jawabannya tetap sama : cerita si kaya.

Tiba-tiba penulis sadar kalau mulai ingin memaksakan opini kepadanya. Maka kali ini penulis berhenti mendebatnya, meskipun merasa tidak didengarkannya. Karena sesungguhnya ia sedang tertarik kepada orang lain, si kaya. Bukan kepada kompleksitas persoalan dirinya yang jauh lebih penting untuk dituntaskannya.

Posted in Saya Lihat-Dengar-Rasakan | Tinggalkan komentar

Melihat

Saya melihat tetapi tidak melihat. Saya buta.

Saat saya melihat orang, pikiran sayalah yang mengambil alih kejernihan indera mata. Banyak persepsi, prasangka, iri hati, cemburu, menyepelekan, superior, inferior.

Saat saya melihat bunga, langit, burung, tumbuhan, banyak bayangan berkelebatan di dalam kepala. Ingatan tentang tadi, rencana besok, kecemasan, frustasi, marah, jengkel, bingung, dan begitu banyak imajinasi.

Saya melihat seperti yang saya seharusnya inginkan.

Saya tidak melihat apa adanya.

Saya kehilangan keindahan

Posted in Uncategorized | Tinggalkan komentar

Me

Apakah ‘me’ adalah berkah ataukah kutukan ?
Yes Me
or
No Me ?
or There is No or Yes Me ?

Hidup yang berpusat pada ‘me’ melahirkan banyak cakap. Banyak imaji. Banyak rasa. Banyak gaduh.

Hidup yang tidak berpusat pada apapun adalah kebebasan.

Pusat kegaduhan adalah ‘me’ yang senantiasa meronta mencari bentuknya. ‘Me’ who needs, who wants to be, to do, to have’.

There is no center.

Could we ?

Posted in Saya Lihat-Dengar-Rasakan | Tinggalkan komentar

THR

Banyak orang membeli barang saat uang THR datang. Banyak toko mendapatkan untung. Banyak yang tiba-tiba jadi dermawan.

Mengapa hasrat membeli sangat kuat sekarang ?

Merasa tiba-tiba menjadi kaya ?

Merasa tiba-tiba menjadi berdaya ?

Ataukah karena didorong tradisi usang semata ?

Ataukah ‘demi’ ini dan itu.

Perlukah ?

 

 

 

 

Posted in Saya Lihat-Dengar-Rasakan | Tinggalkan komentar

Demi

Bila saya melakukan ‘demi….’ maka saya akan kecewa.

“Saya akan bekerja keras ‘demi’ uang, maka saya kecewa karena tidak ada uang setelah saya bekerja keras…”

“Saya menyanyi dengan indah, maka saya akan kecewa karena tidak ada pujian dan tepuk tangan…”

“Saya bekerja mati-matian, demi dihargai, maka saya akan kecewa karena pekerjaan saya tidak dihargai”..

“Saya ….. demi….., maka saya akan kecewa karena….”

‘Demi’ adalah bentuk kelekatan halus… yang bila saya mengikutinya saya pasti kecewa.

 

 

 

Posted in Saya Lihat-Dengar-Rasakan | Tinggalkan komentar

Segala Masalah Datang

“Segala masalah manusia datang dari ketidaktahuannya tentang cara untuk duduk diam”

-Blaise Pascal-

Posted in Saya Lihat-Dengar-Rasakan | Tinggalkan komentar

MEMBANDINGKAN

Sebagian besar masalah akan selesai bila kita tidak membandingkan.

Posted in Saya Lihat-Dengar-Rasakan | Tinggalkan komentar

Nothing

Kita menjadi sesuatu karena merasa bisa dan memiliki.

Bila yang bisa dan dimiliki tidak ada

Tiadalah kita.

Bukankah itu jauh terasa lebih membebaskan  ?

Posted in Saya Lihat-Dengar-Rasakan | Tinggalkan komentar