Semalam rekan penulis bercerita berapi-api, penuh semangat. Setelah beropini tentang kebobrokan mantan pejabat negeri ini dan kemungkinan-kemungkinan kebobrokan lainnya, ia berseloroh.
“Orang terkaya di desa ini saya kenal. Uangnya 30 M. Sekian ratus juta sudah disiapkan untuk istrinya. Sekian ratus juta untuk anak-anaknya. Tapi dia tidak puas juga. Masih beli kapal tanker. Kok tidak pernah puas…”
“Mengapa Bapak tertarik mengomentari si orang kaya di desa kita. Bukankah lebih baik bertanya kepada diri sendiri : Kalau saya sedang serakah, ingin lebih, apakah saya menyadarinya detik itu dan atas kesadaran itu tidak ada lagi keinginan serakah sekaligus keserakahan itu berhenti ?”, kata penulis.
“Teman saya yang lain uangnya saya duga sudah T (trilyunan), karena baru bangun tidur lagi kucek-kucek mata sudah ada tumpukan bon di kamar tidurnya.”, katanya lagi.
Penulis menyela dengan ungkapan yang sama. Jawabannya tetap sama : cerita si kaya.
Tiba-tiba penulis sadar kalau mulai ingin memaksakan opini kepadanya. Maka kali ini penulis berhenti mendebatnya, meskipun merasa tidak didengarkannya. Karena sesungguhnya ia sedang tertarik kepada orang lain, si kaya. Bukan kepada kompleksitas persoalan dirinya yang jauh lebih penting untuk dituntaskannya.